Metode tradisional ini sangat familier di kalangan perkotaan dan pedesaan. Kerik merupakan terapi pengobatan untuk gejala masuk angin
dengan cara menggaruk sembari menekan bagian permukaan kulit
menggunakan minyak dan benda tumpul seperti uang logam sebagai alat
pengerok, yang selanjutnya menghasilkan guratan merah pada kulit.
Proses terapi kerokan cukup sederhana, yakni membuat suatu reaksi
inflamasi atau radang yang mengakibatkan melebarnya pembuluh
darah.Dengan dikerok, terjadilah pelebaran pembuluh darah yang akan
melancarkan aliran darah. Jika aliran darah lancar maka lebih banyak
oksigen dan nutrisi masuk untuk jaringan otot. Pada proses kerokan,
terjadi suatu reaksi inflamasi atau radang. Akibatnya terjadi pelebaran
pembuluh darah dan pengeluaran mediator inflamasi. Aliran darah menjadi
lancar jika dikerok atau dipijat sehingga lebih banyak oksigen dan
nutrisi yang tersedia untuk jaringan otot. Zat-zat yang menyebabkan rasa
pegal dapat segera dibawa aliran darah untuk dibuang atau dinetralkan.
Selain itu, juga terjadi rangsangan pada keratinosit dan endotel
(lapisan paling dalam pembuluh darah) yang akan bereaksi dengan
munculnya propiomelanokortin (POMC). Zat ini merupakan polipeptida yang kemudian akan dipecah dengan hasil akhir salah satunya adalah beta endorfin.
Pasca kerokan didapatkan peningkatan IL-1 beta, Clq, dan beta
endorfin, sementara kadar C3 dan PGE2 justru turun. Penyebab rasa nyeri
adalah PGE2 sehingga jika kadar PGE2 diturunkan maka nyeri akan
berkurang. Hasil ini menyebabkan berkurangnya nyeri otot,
badan terasa segar dan nyaman. Inflamasi yang ditimbulkan selain
meredakan nyeri otot juga akan memicu reaksi kardiovaskuler. Tandanya
adalah peningkatan temperatur tubuh secara ringan, antara 0,5-1oC.
Makanya setelah dikerok, badan kita terasa lebih hangat.
Sumber : id.wikipedia.org
Tidak ada komentar:
Posting Komentar